Seni melukis kain

Posted by SWING ART PRODUCTION Sabtu, 24 November 2012 0 komentar

PELUANG BISNIS SENI MELUKIS KAIN

Kini, melukis tidak hanya dilakukan doatas kanvas saja.Melukis kain menjadi suatu seni yang digemari banyak orang.Bahkan ketrampilan seni melukis kain dapat dijadikan peluang bisnis yang menjanjikan. Berbagai bahan dari kain dapat dihias dengan penambahan lukisan , beberapa bahan dari kain dapat di hias dengan penambahan lukisan.Beberapa bahan dari kain yang sering dilukis misanya baju kaos, taskain, celana jean. Sepatubahkan mukena dan kerudung pun tak luput daru hiasan seni lukis kain.Berbagai  motif  abstrak, tokoh kartun, hewan tertentu hingga motif bunga

Cara Melukis Kain
SEni melukis kain sebenarnya hamper  mirip dengan seni melukis kanvas. Perbedaannya adalah  kain yang digunakan  bukan kanvas tapi kain biasa yang digunakan sehari-hari.Pada dasarnya semua jenis kain dapat dilukis mulai dari bahan kaos, jean, rayon hingga sutra. Perbedaan lain dengan seni melukis di kanvas adalah cat yang di gunakan, kalau melukis kanvas menggunakan bahan cat minyak atau cat akrilik, melukis kain menggunakan cat khusus untuk bahan tekstil walau kadang cat akrilik dapat di gunakan untuk melukis kain. Sebelum membeli cat khusus untuk melukis kain, sebaiknya anda menanyakan terlebih dahulu jenis cat apa yang akan di beli
Berikttahapan cara melukis kain
1.  Siapkan bahan yang akan dilukis
2.  Buat sketsa gambar yang diinginkan dengan menggunakan pensil
3.  Beri warna sesuai desai yang diinginkan
4. Setelah semua objek selesei digambar dan diwarnai, beri garis sebagai outine tepi setiap objek. Misalnya menggambar garis tepi kelopak bunga. Penambahan detil juga dilakukan seperti detil putik dan benang bunga, dan lain-lain
5. Setrika objek gambar. Untuk membantu cat menyerap ke dalam serat kain, sehinggga  tidak mudah lunturketika dicuci
Lahan Bisnis
Saat ini , seni melukis kain menjadi salah satu lahan bisnis yang menjanjikan .Lika tertarik. Anda dapat menekuni seni ini sebagai salah satidak diperlukan ketrampilan khusus untuk memulai bisnis. Kalaupun tidak bisa mengambar, dapat menjipak desain-desain gambar lain untuk mempermudah
Hanya saja ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan.Salah satunya adalah memperhatikan segmen yang anda bidik, sesuaikan desain gambar anda dengan segmen tersebut. Jika membidik segment ibu-ibu, tentu pilihan produk bagan jain baju, mukena dan kerudung tepat untuk itu, pilih desain bunga atau gambar kupu-kupu dengan pilihan warna soft
Jika anda memilih segmen anak muda, tentu baju kaos, sepatu lukis dan jeans lukis adalah pilihan produk yang tepat .Desain gambarnya biasanya bermotif abstrak atau berupa kata-kata. Jika anda berniat membidik segmen anak-anak, uatlah kaos lukis dengan tokoh jartun yang lucu untuk mereka.(www.swing-art-production.blogspot.com)

Baca Selengkapnya ....

Tari kenjer lasan

Posted by SWING ART PRODUCTION 0 komentar

FESTIVAL SENI CAK DURASIM PERFORMING ART FESTIVAL NOVEMBER 2008

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki berbagai macam kebudayaan, salah satunya adalah kesenian.Baik seni musik, seni tari, seni lukis, dll.Seni tari contohnya, Indonesia sangat memiliki banyak macam tari-tarian.Di setiap masing-masing daerah di Indonesia memiliki ciri khas tarian yang berbeda-beda serta bermacam-macam.Salah satunya adalah wilayah Kalimantan, disana sangat memiliki banyak macam tarian.Wilayah di Kalimantan  di dominasi oleh daerah berkawasan hutan, oleh karena itu tarian-tarian yang berasal dari daerah ini lebih memiliki ciri khas tarian  yang mengambil tema dari alam serta fenomena alam. Seperti dalam karya seni tari yang diselenggarakan pada Festival Cakdurasim yang diselenggarakan pada bulan Nopember ini.Karya ini mengambil tema tentang pelestarian burung Enggang yang mulai mendapat perhatian yang berkurang sehingga mengalami kepunahan.

Tari Kenjet Lasan merupakan suatu karya yang sangat indah, atraktif, dan juga dinamis.Gerakan-gerakannya yang lemah gemulai ditarikan oleh penari sebagai symbol burung Enggang.Gerakan, kostum, serta iringan terasa sangat kental ciri khasnya yang berasal dari daerah Kalimantan Timur.Pengaturan pola lantai serta lighting sangat sesuai dengan karya tari tersebut.
Tarian ini ditarikan oleh 7 penari yang terdiri dari 4 wanita dan 3 pria.Kedudukan penari wanita disini adalah sebagai simbol burung Enggang yang hampir punah karena keindahannya yang diburu oleh para pemburu.Pemburu dalam karya ini diperankan oleh para penari pria yang membawa property tameng serta tombak yang biasa dipakai oleh masyarakat Kalimantan untuk berburu.Burung Enggang merupakan burung yang keberadaannya di wilayah Kalimantan serta menjadi simbol di daerah Kalimantan tersebut.Bulunya yang indah, dagingnya yang empuk, serta keberadaan burung Enggang yang langka sehingga menjadi daya jual yang tinggi.Itulah sebabnya mengapa burung Enggang sangat banyak diburu oleh para pemburu, dan mengakibatkan berangsur menghilang keberadaannya.
Fenomena diatas diambil oleh koreografer untuk menghasilkan suatu karya seni tari yang sangat menarik. Dalam karya seni tari tersebut dapat terbaca dengan jelas bagaimana cerita serta pesan yang akan disampaikan oleh koreografer. Sehingga para penonton baik dari kalangan pemerhati seni maupun masyarakat awam dapat dengan mudah menangkap isi cerita tersebut serta pesan yang hendak disampaikan, dan tidak menimbulkan berbagai macam pertanyaan atau penasaran, namun kepuasan sebagai sebagai penonton yang mampu dirasakan.
Karya seni tari ini berlangsung ± 15 menit.Dalam waktu tersebut koreografer mampu menyampaikan ide gagasan, isi, serta pesan.

·   Gerak
Gerakan penari wanita lebih halus, mengalir, dan menggunakan gerak-gerak maknawi yang diambil dari gerak burung Enggang.Pada jari-jari tangan penari wanita menggunakan property bulu-bulu burung Enggang dan digerakkan secara lembut dan sesuai dengan alunan musik.Gerakan lebih didominasi dari gerak tangan serta kaki, sedangkan bagian tubuh lainnya mengikuti dari gerakan tangan dan kaki tersebut.Ada penonjolan tokoh pada penari-penari wanita, dimana salah satu penari wanita menjadi burung Enggang yang paling cantik dan diburu oleh pemburu.Penonjolan tersebut diungkapkan melalui gerak serta kostum yang berbeda dengan penari lainnya.
Untuk gerakan penari pria sangat energik dan membutuhkan pengolahan tenaga yang cukup ekstra.Itu dikarenakan koreografer ingin menuangkan karakter pemburu yang sangat energik serta bersemangat dalam memburu mangsanya.Penari pria juga sesekali berteriak sebagai penyemangat mereka untuk berburu.Mereka menggunakan property tameng, pedang, serta tombak. Gerak untuk penari pria ini tidak jauh beda dengan tari perang pada umumnya.

·   Iringan Musik
Menggunakan alat-alat musik khas daerah Kalimantan, yang sangat mendukung serta menambah keutamakan cirri khas dari daerah Kalimantan tersebut. Untuk awal tarian, karya seni tari ini menggunakan alunan musik yang slow disertai vokal, dan dinamikanya bertambah cepat serta keras ketika para pemburu memasuki panggung, dan menunjukkan bahwa itu adalah klimaks dan berakhir dengan alunan musik yang ceria. Iringan musik dalam suatu karya seni tari sangat mempengaruhi, terciptanya suasana yang diharapkan serta kesempurnaan, dan semua itu sudah terpenuhi dalam karya seni tari ini.

·   Tata Rias dan Busana Tari
Tata rias dan busana sangat mendukung demi terciptanya karakter yang ditarikan oleh penari.Penari wanita menggunakan tata rias wajah yang minimalis.Untuk busana tarinya sangatlah mewah dan indah karena melambangkan keanggunan burung Enggang.Menggunakan rompi serta rok sepan panjang berwarna hitam yang terbuat dari bahan bludru dan dihiasi manik-manik dan bulu burung Enggang serta penari menggunakan perhiasan cantik seperti anting-anting, kalung serta gelang.
Untuk penari pria menggunakan rompi yang terbuat dari bulu kerbau berwarna coklat, celana pendek/hotpen, dan menggunakan topi. Di tubuh mereka dihiasi tattoo khas daerah Kalimantan. (www.swing-art-production.blogspot.com)

Baca Selengkapnya ....

INDONESIA VS MALAYSIA

Posted by SWING ART PRODUCTION 0 komentar

"Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului"
( INDONESIA VS MALAYSIA)



         Yapi Panda Abdiel Tambayong (Erjapi Tambajong) atau lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado (lahir di Makasar Sulawesi Selatan 12 juli 1945 umur 65 tahun) adalah salah satu  sastrawan indonesia Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redakturmajalahAktuil Bandung (sejak 1970), dosenAkademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia juga salah satu pelopor penulisan puisi mbeling.Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu banyak akan film. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
              Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli dibidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasarbuku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya

dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya diluar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
            Remy Sylado pernah dan masih mengajar dibeberapa perguruan di Bandung dan Jakarta, seperti AkademiSinematografi, Institut Teater dan Film, Sekolah Tinggi Teologi.
Jangan Saling Mendahului

        Kompas ikut membikin ramai klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia, mencantumkan judul lagu ”Terang Bulan” sebagai ciptaan orang Indonesia. Sebelumnya beberapa brodkas TV stel yakin mencocokkan lagu kebangsaan Malaysia ”Negaraku” dengan lagu ”Terang Bulan”. Malahan seseorang yang mengaku anak Sjaiful Bachri, pemusik Indonesia yang pernah ”lari” ke Malaysia, sebagai pencipta ”Terang Bulan”.     
        Salah satu, jika bukan satu-satunya media pers Indonesia pada 1957 yang memuat berita tentang ”Terang Bulan” menjadi lagu kebangsaan Malaysia adalah majalah Musika No 1 Th I September 1957. Majalah yang dipimpin Wienaktoe itu menurunkan berita berjudul ”Negaraku” sebagai berikut: ”Melodi lagu ’Terang Bulan’ jang kesohor itu achirnja dengan resmi diterima sebagai lagu kebangsaan Malaya pada hari kemerdekaan tanggal 31 Agustus 1957 j.l. dengan diberi nama dan tekst baru ’Negaraku’. Pihak RRI dan Pemerintah Indonesia untuk menjatakan penghargaannja, telah melarang diputar dan dimainkan atau diperdengarkan melodi tsb pada setiap kedjadian biasa”.
        Kalau kita membaca Het Nationale Volkslied oleh Margreet Fogteloo & Bert Wikie (AW Bruna Uitgevers BV Utrecht), jelas diuraikan bahwa ”Negaraku” yang dulu di Indonesia dikenal sebagai ”Terang Bulan” adalah ciptaan orang Perancis bernama Pierre Jean de Béranger (1780- 1857). Siapa sebenarnya orang ini? Ensiklopedia pertama yang terbit setelah Indonesia merdeka, Ensiklopedia Indonesia, 1954, oleh TS Mulia dan KAH Hidding mencatat nama Pierre Jean de Béranger sebagai pencipta sejumlah lagu rakyat (Pr chanson populaire, Ing. folk song, Bld, volkslied). Di antara ciptaannya yang terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Perancis di sini, Februari-Agustus 1811, sampai digegaskannya Bandung sebagai Parijs van Java, 1925, adalah Chansons morales et autres, Chansons nouvelles, Chansons inédites. Selama itu, pengaruh kebudayaan Perancis di Indonesia, jadi bukan di Malaysia, memang besar. Di Manado, yang sekarang disebut katrili, dan merupakan kesenian tradisional, berasal dari kata bahasa Perancis quadrille. Lalu, di Bandung, teater tradisional longser merupakan serapan kata bahasa Perancis, aba-aba seorang sutradara mengucapkan kata longer untuk bergerak lalu. Dan, jangan lupa kereta sado di Batavia berasal dari bahasa Perancis dos à dos, artinya duduk saling memunggung.
           Tetapi, di antara tokoh-tokoh seni Perancis yang pernah lama mukim di Indonesia, bukan Malaysia, adalah penyair terkemuka perkusor Simbolisme abad ke-19, Arthur Rimbaud. Pada 1876 penyair ini tinggal di Salatiga sebagai serdadu batalion I infanteri. Tentang dirinya di Salatiga bisa dibaca dalam Het Koninklijk Negerrlands-Indisch Leger 1830- 1950 oleh Zwitzer & Heshusius (Staatsuitvegerij ’s-Gravenhage).Salah seorang sahabat Rimbaud, René du Bois, bahkan menetap di lereng gunung Ungaran sampai tua, dan termasuk yang dikunjungi Mata Hari (Margareha Geertruide Zelle) sang ’polyglot harlot’ yang dieksekusi mati oleh otoritas Perancis pada Perang Dunia I sebagai mata-mata.
        Maunya, dengan sekelumit gambaran ini, jangan sampai gairah klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia lantas melupakan peribahasa ”semut di eberang laut tampak gajah di depan mata tak tampak”. Sebab, kita juga punya kebiasaan nyolong.  Sebagai pembuka ingatan, perhatikan dua lagu yang dianggap memiliki pathos kebangsaan, yaitu lirik ”Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau”, dan ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”. Yang pertama mengingatkan lagu Perancis ciptaan Rouget de Lisle. Memang hanya bagian depan, bagian yang sama dimanfaatkan Beatles juga.           
Tetapi yang kedua, ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”, adalah 100% pencurian atas lagu gereja ”What a Friend We Have in Jesus”. Tidak tahu apa ilusi grup musik perempuan asal Surabaya, Dara Puspita, pada 1960-an menyanyikannya menjadi ”Ibu Pertiwi sedang bersusah”. Lagu himne ini aslinya diciptakan oleh Horatius Bonar pada lirik dan Charles Crozat Converse pada musik, dan dicatat hak ciptanya pada 1876 lewat Biglow & Main. Harapannya, dalam klaim- klaiman yang sedang panas sekarang ini, jangan pula melahirkan pemeo baru ”Sesama pencuri jangan saling mendahului”. Sebab, ujungnya kalau urusan marah-marah ini dibeberkan dengan kasus-kasus plagiat yang ternyata tidak sepi di Indonesia,  malunya harus         ditanggung bersama  .
 

 Sekadar contoh lain untuk mengingatkan itu, pada 1971 Markas Besar Angkatan Darat, ditandatangani oleh Brigjen Soerjadi, telah membuat malu memberi piagam kepada Ismail Marzuki sebagai komponis yang disebut mencipta lagu ”Auld Lang Syne”. Periksa Lagu-Lagu Pilihan Ismail Marzuki, oleh WS Suwito, Titik Terang, Jakarta. Tentu saja ini ngawur yang menyedihkan. Lagu ”Auld Lang Syne” itu nyanyian tradisional Skot yang digubah oleh Robert Burn dan dicatat penciptaannya melalui Preston & Son, London, 1799.
        Sebelum itu, Ismail Marzuki disebut juga sebagai pencipta lagu ”Als die orchideeën bleien” dan ”Panon Hideung”. Padahal, lagu yang pertama, yang kemudian berlirik bahasa Indonesia ”Bunga anggrek mulai timbul”, adalah ciptaan Belloni, pemimpin orkes Concordia Respavae Crescunt, yang dinyanyikan oleh Miss Lie pada 1922. Yang kedua, ”Panon Hideung” adalah lagu tradisional Rusia, diaransemen di Amerika oleh Harry Horlick & Gregory Stone dan masuk hak cipta pada 1926 di bawah Carl Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonesia, melalui Bandung pada tahun yang sama oleh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev. Termasuk Presiden RI Soekarno, pada 1961 membuat kesalahan memberikan Piagam Widjajakusuma kepada Ismail Marzuki, yang menyebut dalam piagam itu bahwa lagu ”Hallo- hallo Bandung” adalah ciptaan Ismail Marzuki. Padahal, lagu itu aslinya ciptaan seorang prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing yang dinyanyikan bersama peleton Bataknya dari long march Yogya-Bandung di zaman revolusi.
              Tentang kematiannya bisa dilihat lukisannya di Museum Siliwangi, Jl Lembong, Bandung. Lagu ”Hallo-hallo Bandung” ciptaan Lumban Tobing ini hanya sama judul, tapi beda melodi dan lirik dengan lagu Belanda nyanyian Willy Derby pada 1929 ketika radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij) beroperasi di Bandung versi baru rekaman ini dinyanyikan lagi oleh Wieteke van Dort di TV Belanda dalam De Stratemakeropzeeshow, 1972, dan dicetak teksnya pada 1992 dalam De Wduwe van Indië. Nah, ”Terang Bulan” juga tersua dalam De Wduwe van Indië dalam dua teks, yaitu bahasa Indonesia gaya KNIL dan bahasa Belanda. Kita baca teks yang pertama saja: Terang boelan terang boelan di kali Boewaja timboel katanja lah mati Djangan pertjajan orang lelaki Brani soempa dia takoet mati,  Asal saja teks lama di atas tidak jadi ejekan kepada kita, Indon, sebagai ”brani soempa, dia takoet mati”. Kalau ada tuduhan begitu, rasanya elok diingat teriakan Bung Karno dulu, ”Ganyang Malaysia!” Remy Sylado Pengamat Musik, Novelis, Dramawan.(www.swing-art-production.blogspot.com)




Baca Selengkapnya ....